("http://gambarkursorkamu.gif") http://imageshack.us/photo/my-images/846/bxbxb.jpg/

TESTIMONI (KESAKSIAN)



1. Pemahaman Individu terhadap Pengetahuan

       Para filsuf dahulu kala dalam pencarian pengetahuan dilakukan dengan aktivitas yang soliter (secara terpisah / sendiri-sendiri).  Hal ini dipastikan dalam pendekatan rasional, secara jelas diilustrasikan oleh Descartes dalam Meditations (1641). Duduk sendiri dengan api, dia membuktikan keberadaan Tuhan dan Tuhan tidak memperbolehkan dirinya tertipu (larut) dengan hal-hal duniawi. Kaum empiris dengan metoda paradigmanya memperoleh pengetahuan tentang dunia melalui persepsi; untuk mengetahui p, anda harus memahami dan mempercayai p. Individu secara soliter menempatkan asal usul ilmu, baik berdasarkan pengetahuan bawaan maupun pengetahuan empiris yang dibangun melalui persepsi. Kita dapat menyebutnya memahami pengetauan secara “Individu”. Terdapat beberapa pernyataan eksplisit melalui pendekatan secara individu:
®    Pergerakan pendapat orang lain di dalam otak kita membuat kita tidak sedikit lebih tahu, meskipun benar terjadi. Hal tersebut disebut sains dan kami menyebutnya pendapat. (Locke, 1975)
®    On no man’s word. (Moto masyarakat Royal)
®    Jangan percaya perkataanku, bergantunglah pada cahayamu sendiri. (Budha)
       Dalam bab ini kita akan mempertanyakan apakah klaim bahwa keyakinan testimonial adalah tingkat kedua, dan akankah dapat diterima dalam memperoleh percaya yg terjustifikasi dan pengetahuan dari orang lain.
2. Testimoni
       Belakangan ini banyak kepentingan bergeser dari konsep individual terhadap pengetahuan, yaitu kita dapat memperoleh pengetahuan empiris dari orang lain tanpa merasakan sendiri. Sebelumnya, perlu dicatat hal ini merupakan kesatuan mengenai bagaimana secara umum kita membicarakan pengetahuan. Istilah umum dari pengetahuan adalah “Pengetahuan yang bersifat pembuktian” dengan kesaksian dapat diaplikasiakan secara luas. Laporan pembuktian terdiri dari pernyataan lisan, tertulis, rekaman, pantomim, isyarat dan segala bentuk komunikasi yang dapat digunakan untuk memberikan informasi tentang dunia. Salah satu contoh adalah gerakan kepala dalam merespon pertanyaan, baik mengangguk atau menggeleng. Berbicara mengenai kesaksian tidak hanya menyangkut kesaksian formal secara hukum di pengadilan maupun secara keagamaan di gereja. Kesaksian disini mengacu pada kejadian setiap hari sehingga mendapatkan informasi (pengetahuan) dari seseorang. Sala satu contoh putatif mengenai pengetahuan yang bersifat pembuktian; setiap manusia memiliki otak (Saya belum pernah melihat apa yang terdapat didalam tengkorak) dan Pegunungan D’Huez berada di sebelah Timur Grenoble (hal tersebut ada di peta, saya belum pernah kesana). Dalam bab ini kita mempercayai contoh putatif tersebut sebagai pengetahuan. Hal ini dipastikan dengan banyaknya kesaksian yang telah tersiar, kita tidak memiliki pilihan selain mempercayainya, dan kita tidak memiliki kesempatan untuk membuktikannya secara langsung. Isu utama yang menjadi pokok permasalahan selanjutnya adalah “apakah” dan “bagaimana” kita terjustifikasi dalam menerima kesaksian dari orang lain. Terdapat dua catatan pembenaran, yaitu Hume dan Thomas Reid.
3. Catatan Hume Mengenai Testimoni
       Hume adalah filsuf pertama yang mencatat pentingnya kesaksian. “there is no species of reasoning more common, more useful, and even necessary to human life, than that which is derived from the testimony of men and the reports of eye-witnesses and spectators” (Hume, 1999). Dapat disebutkan bahwa tidak satu penalaran pun lebih umum, lebih berguna dan bahkan lebih diperlukan dalam kehidupan dari pada yang berasal dari kesaksian seseorang dan laporan saksi mata dan penonton. Dalam catatan tertulis bagaimana kesaksian dipercaya sebagai pembenaran. Saya hanya akan terjustifikasi dalam mempercayai pernyataan seseorang jika dia memiliki track record (pengalaman/catatan) yang baik. Hal ini merupakan catatan yang reduktif tentang kesaksian bagi Humean sejak sumber pembenaran dari kesaksian tersebut berasal dari kemampuan epistemic lain yang mereka dimiliki. Humean disini berarti suatu kelompok yang mengadopsi catatan reduktif Hume mengenai ‘kesaksian’, namun tidak bersifat skeptif. Pembenaran kesaksian yang bersifat reduktif dapat berupa persepsi, ingatan dan kesimpulan. Terdapat dua masalah mengenai catatan reduktif. Bab ini akan membahas dalam sudut pandang Humean.
3.1 Permasalahan yang tak berujung pangkal (berputar)
                        Hal ini menyangkut pembuktian mengenai pembenaran kesaksian yang kita percaya. Salah satu contohnya adalah saat mendengar berita di radio mengenai suatu kejadian. Menurut catatan Humean terdapat ketidakjelasan apakah saya harus mempercayai pembaca berita tersebut. Saya tidak pernah mendengar pembaca berita tersebut sebelumnya, saya tidak pernah berbicara dengan pembaca berita tersebut dan saya tidak mengetahui track record pembaca berita. Hal ini seharusnya tidak membiarkan saya terjustifikasi dalam mempercayai laporan dari pembaca berita. Untuk mengatasi kesimpulan yang berlawanan, Humean mengklaim bahwa pembuktian dapat dikembangkan jika kita dapat menyimpulkan dasar hubungan antara jenis pembaca berita dan jenis kegiatannya. Saya tidak pernah mendengar pembaca berita tersebut sebelumnya, namun memiliki bukti bahwa pembaca berita tersebut secara umum memang melaporkan jenis kegiatan tersebut sebelumnya. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan bukti yang independen untuk menilai apakah jenis pembaca berita dan jenis kegiatan memang terpercaya. Kita dapat mengecek kebenaran tersebut melalui media cetak dan internet. Sumber tersebut juga merupakan laporan kesaksian, sehingga masalah catatan pembenaran ini akan selalu berputar.
3.2 Argumen Martian
                        Disini kita akan membicarakan argumen yang bertentangan dengan catatan Humean mengenai testimoni (kesaksian). Salah satu yang diungkapkan oleh Tony Coady (1973;1992); menurut Humean kita memperoleh pembenaran kesaksian bukan berdasarkan hubungan empiris antara pernyataan seseorang tentang dunia dan dunia yang sebenarnya. Permasalahannya adalah kita hanya harus mempercayai pembicara dengan memiliki bukti mengenai track record. Jika Humean tidak memiliki bukti, maka pernyataan pembicara akan disebut salah dan Humean mengklaim bahwa mereka tidak terjustifikasi dalam mempercayai pernyataan pembicara. Menurut catatan Humean adalah memungkinkan untuk bertatap muka dengan kelompok pembicara yang tidak terpercaya. Kelompok pembicara yang tidak terpercaya disini disebut sebagai “Martians”. Menurut Tony Coady keberadaan dari Martians adalah tidak ada.
                        Untuk mengerti bahasa alien atau bahasa asing, kita harus membedakan secara jelas kata dalam bahasa asing dan kata dalam bahasa sendiri. Jika alien atau orang asing mengatakan “ral-pop” saat kehadiran “armadilo” maka masuk akal “ral-pop” berarti “armadilo”. Menurut Humean hal tersebut tidak berarti karena tidak berhubungan, maka laporan tersebut diklaim adalah salah. Apabila saat menunjuk armadilo orang asing tersebut mengatakan “ral-pop” atau “hceeb” atau kadang mengatakan “kao”. Coady mengklaim dari pemikiran tersebut bahwa Martians adalah tidak ada. Karena kelompok tersebut mengatakan “ral-pop” yang berarti armadilo atau makhluk yang mengeluarkan suara “ral-pop” sebagai armadilo. Dalam hal ini kita menyadari bahwa kesaksian kadang tidak selalu benar. Klaim bahwa semua kesaksian adalah salah, hal tersebut tidak masuk akal.
4. Catatan Kesaksian Reid
Humean mengklaim bahwa kita tidak memiliki alasan untuk menerima kesaksian seseorang, kecuali kita memiliki bukti yang kuat bahwa itu dapat diandalkan. Thomas Reid, menunjukkan sebuah pendekatan yang bertentangan, bahwa ia berpendapat kita harus menerima kesaksian seseorang, kecuali kita memiliki alasan yang kuat untuk menyangkal bahwa laporan itu tidak benar. Pada umumnya kita hanya percaya apa yang orang lain katakan dan mungkin kita mudah tertipu tentang hal tersebut. Seperti biasanya kita percaya terhadap apa yang kita lihat dengan mata kepala kita sendiri. Namun, hal ini tidak terbatas pada anak-anak, sampai mereka bertemu dengan kasus penipuan dan kebohongan, dimana mereka memiliki tingkat kekuatan yang cukup terhadap kesaksian secara alamiah cenderung ke sisi keyakinan.
Namun, jika itu adalah sesuatu yang kita peroleh melalui pengalaman sebagai Humean klaim, maka seperti anak-anak mudah percaya apa yang orang lain katakan tersebut menjadi lemah dan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.
Pernyataan kedua reid mengklaim bahwa percaya dibenarkan, karena secara alami seseorang dibuat untuk menyuarakan kebenaran. Kita memiliki kecenderungan untuk berbicara kebenaran, dengan menggunakan tanda-tanda bahasa, sehingga untuk menyampaikan sentimen kita terhadap seseorang, tidak perlu seni atau pelatihan, maupun tidak ada bujukan dan godaan, melainkan dorongan alamiah. Sebaliknya berbohong merupakan benturan terhadap sifat alami kita.
Jadi, pernyataan tentang sifat manusia dimana kita memiliki sifat apriori yang tepat untuk menerima kesaksian. Karena kesaksian yang benar terletak pada alam bawah sadar kita untuk menerimanya. Dalam keadaan tertentu kita mengetahui seseorang mabuk atau gila, dan juga sensitif terhadap: nada suara, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh, mungkin itu menunjukkan bahwa kita memiliki masalah. Dalam keadaan biasa mungkin hal ini rasional untuk percaya apa yang orang lain katakan dari pada mempercayai penilaian persepsi sendiri. Contohnya:
Ronnie mungkin saja lebih baik dari Adi, dengan demikian ketika bermain di kolam renang, Adi harus percaya padanya jika Ronnie mengatakan bahwa bola putih itu akan melewati satu strip merah, bahkan bagi Adi itu seolah-olah tidak mungkin terjadi. Demikian pula, jika telinga Camille adalah lebih baik daripada telingga Mawar, maka Mawar  harus percaya padanya jika Camille mengatakan bahwa biola mengeluarkan suara selaras. Seperti contoh yang mengilustrasikan di atas bahwa kesaksian bukanlah sumber kedua dari keyakinan, melainkan kita dibenarkan untuk mempercayai perkataan orang lain untuk sesuatu yang bahkan mungkin bertolak belakang dengan keyakinan perpektual kita sendiri.










Artikel Terkait Filsafat

☆☆☆ Terimakasih Semoga Bermanfaat ☆☆☆
Judul: TESTIMONI (KESAKSIAN)
Rating: 100% based on Perfect ratings. 168 user reviews.
Ditulis Oleh: Wisnu Jibonk

0 Response to "TESTIMONI (KESAKSIAN)"

Posting Komentar