("http://gambarkursorkamu.gif") http://imageshack.us/photo/my-images/846/bxbxb.jpg/

Dinamika Perilaku Individu


Perilaku Individu merupakan salah suatu fungsi dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dalam hal ini kita melihat bagaimana perbedaan individu dalam bentuk kemampuan (termasuk kecerdasan) dan karakteristik biografis (termasuk usia, gender, ras, dan masa jabatan) mempengaruhi kinerja karyawan dan kepuasan kerja. Selain kecerdasan daya tarik fisik juga berpengaruh dalam perilaku organisasi. Seorang manager harus mengetahui perilaku individu, karena setiap perbedaan karakteristik individu menentukan perilaku individu.

1. Kemampuan

Setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda dari individu lain. Namun dari sudut pandang manajemen hal tersebut bukanlah pokok permasalahan, melainkan bagaimana setiap individu bisa memiliki kemampuan yang berbeda dan memanfaatkan pengetahuan tersebut untuk meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan pekerjaannya dengan baik. Kemampuan (ability) adalah kapasitas individu dalam melakukan berbagai macam tugas, kemampuan tersebut berupa bagaimana penilaian terkini yang dilakukan seseorang.

a) Kemampuan Intelektual

Kemampuan intelektual (intellectual ability) adalah kemampuan individu dalam hal melakukan aktivitas mental seperti berpikir, menalar, dan memecahkan masalah. Tujuh bentuk kemampuan intelektual yaitu kecerdasan angka, pemahaman verbal, kecepatan persepsi, penalaran induktif, penalaran deduktif, visualisasi spasial, dan daya ingat. Jika suatu kondisi pekerjaan dimana semakin kompleks pekerjaan tersebut dalam pemrosesan informasi maka semakin banyak kemampuan kecerdasan umum dan verbal yang dibutuhkan. 

Individu yang cerdas adalah pelaku kerja yang lebih baik karena mereka lebih kreatif, dapat mempelajari pekerjaan dengan lebih cepat, lebih mampu beradaptasi dalam keadaan yang berubah, dan lebih baik dalam menemukan solusi untuk meningkatkan kinerja. Dapat disimpulkan bahwa kecerdasan adalah salah satu alat ukur yang lebih baik atas kinerja pekerjaan.

Tetapi perlu digarisbawahi bahwa korelasi antara kepuasaan kerja dan kecerdasan adalah nol. Penyebabnya adalah individu yang cerdas cenderung memiliki pekerjaan yang lebih menarik dan lebih kritis dalam mengevaluasi bagaimana keadaan pekerjaan mereka dan sebagai imbalannya individu cerdas mengharapkan hak yang lebih. Perkembangan saat ini, peneliti telah memperluas arti kecerdasan lebih dari kemampuan mental. Peneliti membagi kecerdasan ke dalam empat subbagian yaitu : kognitif, sosial, emosional, dan kultural. 

a. Kecerdasan kognitif adalah kecerdasan yang lama diliput oleh tes-tes kecerdasan tradisional.

b. Kecerdasan sosial adalah kemampuan individu untuk bersosialisasi dengan individu lainnya.

c. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, dan mengelola emosi.

d. Kecerdasan kultural adalah kemampuan untuk menanggapi perbedaan-perbedaan lintaskultural.

Kenyataannya, individu yang memiliki kecerdasan kognitif yang tinggi tidak selalu berhasil beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya misalnya bekerja sama dengan individu lainnya dan peran-peran kepemimpinan. Maka dari itu, diperlukan multikecerdasan (multiple intelligences).

b) Kemampuan Fisik

Kemampuan intelektual sebaiknya didukung dengan kemampuan fisik (physical abilities). Walaupun kita memiliki kemampuan intelektual yang baik tetapi kemampuan fisik kita lemah maka hasil pekerjaan kita tidak akan bisa maksimal. Kemampuan fisik kita dapat dilatih dengan istirahat yang cukup dan olahraga. Selain itu, pola makanan yang seimbang dibutuhkan untuk menjaga kesehatan fisik. Peneliti telah mengidentifikasi sembilan kemampuan dasar yang tercakup dalam kinerja dari tugas-tugas fisik yaitu :

a. Faktor kekuatan yang terdiri dari kekuatan dinamis, kekuatan tubuh, kekuatan statis, dan kekuatan eksplosif.

b. Faktor fleksibilitas yang terdiri dari fleksibilitas luas dan fleksibilitas dinamis.

c. Faktor lainnya yaitu koordinasi tubuh, keseimbangan , dan stamina.


c) Kesesuaian Kemampuan Pekerjaan 

Setiap individu memiliki kemampuan yang berbeda-beda maka dari itu untuk meningkatkan kinerja karyawan hendaknya karyawan disesuaikan dengan kemampuan pekerjaan yang dimiliki. Kemampuan intelektual dan fisik tertentu yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan dengan memadai tergantung pada persyaratan kemampuan dari pekerjaan tersebut. Ketika kemampuan tidak sesuai dengan pekerjaan karena karyawan memiliki ketrampilan yang jauh melebihi persyaratan untuk pekerjaan tersebut, prediksi kita akan sangat berbeda. Kinerja pekerjaan kemungkinan akan memadai tetapi akan terdapat ketidakefisienan dan penurunan tingkat kepuasan karyawan. Kemampuan yang sangat jauh di atas dari yang diperlukan juga mengurangi kepuasan pekerjaan karyawan.


2. Karakteristik Biografis

Untuk mengetahui variabel-variabel yang berpengaruh terhadap produktivitas, ketidakhadiran, perputaran karyawan, penyimpangan, kewargaan, dan kepuasan karyawan dibutuhkan beberapa konsep yang kompleks. Konsep seperti motivasi, kekuasaan dan politik, dan kultur organisasi sulit untuk dinilai, maka dari itu diperlukan informasi mengenai arsip pribadi karyawan. Data-data tersebut berupa karakteristik yang nyata adalah usia, gender, ras, dan masa jabatan seseorang dalam suatu perusahaan. Adanya sejumlah penelitian yang telah secara spesifik menganalisis karakteristik-karakteristik biografis (biographical characteristic) sehingga memudahkan untuk memperoleh informasi. 

a) Usia

ü Usia meningkat maka tingkat turnover menurun. Hal yang dinilai khususnya yakni pengalaman, penilaian, etika kerja yang kuat, dan komitmen terhadap kualitas. Hal tersebut didukung juga karena alternatif pekerjaan yang semakin sedikit, masa pengabdian yang panjang sehingga penghasilan lebih tinggi, dan tunjangan pensiun yang lebih menarik. Walaupun demikian, pekerja yang lebih tua terdapat sisi negatifnya karena kurang memiliki fleksibilitas dan sering menolak teknologi baru. 

ü Usia berbanding terbalik dengan ketidakhadiran. Umur meningkat, maka ketidakhadiran yang disengaja menurun, dan ketidakhadiran yang tidak disengaja meningkat pula. Mengingat umur yang bertambah berarti adanya keluarga yang harus dibina. ketidakhadiran yang disengaja jarang sekali dilakukan, karena melihat pada nilai gaji yang terpotong bila tidak masuk kerja. Dan ketidakhadiran yang tidak disengaja meningkat pula, contoh : bila ada salah satu anaknya yang sakit. 

ü Hubungan usia dan produktivitas berbanding terbalik. Hal ini ditunjukkan oleh ketrampilan individu seperti kecepatan, kelincahan, kekuatan, dan koordinasi akan berkurang. Juga meningkatnya kejenuhan atau kebosanan, dan kurangnya rangsangan intelektual.

ü Hubungan antara usia dan kepuasan kerja memberikan hubungan asosiatif yang positif hingga batas usia 60 tahun. Jika karyawan profesional dan nonprofesional dipisahkan kepuasan cenderung meningkat secara terus-menerus di antara profesional seiring bertambhanya usia mereka sedangkan di antara non profesional kepuasan tersebut menurun selama usia tengah baya dan meningkat lagi pada tahun-tahun selanjutnya.

b) Gender

Perbedaan gender antara pria dan wanita dapat dilihat dalam hal kemampuan memecahkan masalah, menganalisis, dorongan kompetitif, motivasi, sosiabilitas, atau kemampuan belajar. Penelitian psikologis menunjukkan bahwa kaum wanita lebih bersedia menyesuaikan diri terhadap otoritas dan pria lebih agresif serta lebih mungkin memiliki kemungkinan sukses lebih tinggi dibanding wanita. Dalam perputaran karyawan terdapat perbedaan antara wanita dan pria namun tidak signifikan. Tingkat perputaran karyawan wanita sama dengan pria. Tetapi penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran secara konsisten menunjukkan bahwa para wanita memiliki tingkat ketidakhadiran yang lebih tinggi dibandingkan pria. Alasannya adalah wanita yang secara kultur historis memiliki tugas mengurus rumah tangga. Tetapi kebudayaan tersebut berubah seiring dengan perkembangan jaman. Tidak sedikit kaum wanita yang ingin memiliki jenjang karier yang mereka inginkan.

c) Ras

Ras merupakan warisan biologis yang digunakan individu untuk mengidentifikasi diri mereka sendiri sehingga individu memungkinkan untuk mendefinisikan rasnya sendiri. Ras dalam hal pekerjaan biasanya dihubungkan dengan hal-hal keputusan pemilihan personel, evaluasi kinerja, dan diskriminasi di tempat kerja. Kecenderungan yang terjadi di tempat kerja misalnya individu lebih menyukai rekan-rekan dari ras mereka sendiri dalam hal evaluasi kerja, keputusan promosi, dan kenaikan gaji. Selain itu, adanya diskriminasi antara kulit hitam dan putih seperti yang terjadi di Afrika yang dikenal dengan politik apartheid yaitu politik yang memisahkan jenjang sosial dan ekonomi negara dengan dominasi atau kaum mayoritas dikuasai oleh kulit putih dan diskriminasi ras. Keputusan-keputusan pekerjaan yang terjadi antara lain orang berkulit hitam menerima penilaian lebih rendah dan jarang dipromosikan.

d) Masa Jabatan 

ü Adanya hubungan positif antara senioritas dan produktivitas pekerjaan. Masa jabatan bila dinyatakan dengan pengalaman kerja dapat dijadikan tolak ukur atas produktivitas karyawan.

ü Senioritas berkaitan secara negatif terhadap ketidakhadiran. Walaupun frekuensi absensi dan total hari kerja hilang, masa jabatan tetap merupakan variabel tunggal yang paling berpengaruh. 

ü Semakin lama seseorang berada dalam satu pekerjaan lebih kecil kemungkinan untuk mengudurkan diri. Masa jabatan merupakan variabel yang kuat alam menjelaskan perputaran karyawan. Masa jabatan karyawan di masa lalu adalah cerminan perkiraan yang kuat terhadap perputaran karyawan di masa yang akan datang.


3. Kepribadian Pembelajaran

a) Definisi Pembelajaran

Pembelajaran tidak hanya dilakukan dan didapat dari lingkungan pendidikan seperti sekolah saja tetapi pembelajaran terjadi setiap waktu. Maka dari itu, pembelajaran secara umum adalah perubahan perilaku yang relatif permanen dan terjadi sebagai hasil dari pengalaman. Definisi tersebut mengandung pengertian yaitu : 

ü Pembelajaran melibatkan perubahan entah perubahan lebih baik atau sebaliknya

ü Perubahan tersebut hendaknya yang tidak bersifat sementara sehingga dapat mewakili pembelajaran

ü Pengalaman diperlukan untuk pembelajaran yang dapat diperoleh secara langsung maupun tidak langsung

b) Teori Pembelajaran

ü Pengondisian Klasik ( Classical Conditioning)

Pengondisian klasik dapat diartikan sebagai pengondisian individu merespon beberapa stimulus yang berupa stimulus yang berkondisi dan stimulus yang tidak berkondisi, dari respon tersebut menghasilkan respon yang baru. Pengondisian klasik adalah pasif. Suatu kejadian terjadi dan kita merespon dengan cara tertentu. 

ü Pengondisian Operant (Operant Conditioning)

Menurut pengondisian operant dikatakan bahwa perilaku yang dihasilkan oleh individu merupakan akibat dari konsekuensi yang didapat. Individu berperilaku untuk mendapatkan sesuatu yang mereka inginkan atau menghindari sesuatu yang tidak mereka inginkan. Perilaku operant adalah perilaku secara sukarela atau yang dipelajari dan merupakan kebalikan dari perilaku refleksi atau yang tidak dipelajari. Alasannya tidak lain adalah dipengaruhi oleh ada atau tidaknya penegasan dari konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku. Konsep pengondisian operant merupakan bagian dari konsep Skinner mengenai paham perilaku (behaviorism) mengatakan bahwa perilaku mengikuti rangsangan dalam cara yang relatif tidak terpikirkan. Konsep-konsep seperti perasaan dan pikiran tidak diperhitungkan dalam hal ini. Artinya, individu belajar untuk mengasosiasikan rangsangan dan respon tetapi pikiran sadar mereka terhadap asosiasi ini adalah tidak relevan. 

ü Pembelajaran Sosial

Teori pembelajaran sosial merupakan pandangan dimana individu dapat belajar melalui pengalaman tidak langsung ataupun pengalaman langsung yang dirasakan. Pembelajaran sosial merupakan perluasan dari pengondisian operant yang mengasumsikan bahwa perilaku adalah akibat dari konsekuensi. Ada empat proses yang menjadi dasar untuk menentukan pengaruh model pada individu. (1) Proses perhatian dimana individu belajar dari sebuah model hanya ketika mereka mengenali dan mencurahkan perhatian terhadap fitur-fitur penting, cenderung terpengaruh oleh model yang menarik. (2) Proses penyimpanan dimana pengaruh sebuah model akan bergantung pada seberapa baik individu mengingat tindakan model. (3) Proses reproduksi motor adalah proses mengamati model dan diubah menjadi tindakan. (4) Proses penegasan terjadi saat individu akan termotivasi untuk menampilkan perilaku yang dicontohkan jika tersedia insentif positif atau penghargaan.

c) Pembentukan sebagai Alat Manajerial

Dalam hal ini manajemen mencoba membentuk perilaku individu dengan membimbing mereka selama pembelajaran yang dilakukan secara bertahap yang disebut dengan pembentukan perilaku (shaping behavior). Jika manajemen memberikan penghargaan kepada individu yang berprestasi mungkin akan memberikan penegasan yang sedikit. Pembentukan perilaku individu memberikan pendekatan relevan untuk mencapai tujuan perilaku yang diharapkan. Pembentukan perilaku dilakukan dengan cara sistematis yang menegaskan urutan langkah yang harus dilakukan individu agar tercapai respon yang diinginkan.

ü Metode Pembentukan Perilaku

Terdapat empat cara pembentukan perilaku yaitu penegasan positif, penegasan negatif, hukuman, dan peniadaan. Menindaklanjuti respon dengan sesuatu yang menyenangkan disebut penegasan positif jika dilanjutkan dengan penghentian atau penarikan sesuatu yang tidak menyenangkan disebut penegasan negatif. Hukuman merupakan akibat dari keadaan dimana hal tersebut tidak menyenangkan dan upaya untuk menghilangkan perilaku yang tidak diharapkan. Menghapuskan semua penegasan yang mempertahankan sebuah perilaku disebut peniadaan.

ü Jadwal Penegasan

Ada dua jenis penegasan yaitu penegasan berkesinambungan dan berkala. Jadwal penegasan berkesinambungan (continuous reinforcement) adalah perilaku yang diharapkan dilakukan setiap kali terjadi penegasan. Penegasan berkala (intermittent reinforcement) dapat berupa tipe rasio atau interval. Jadwal rasio bergantung pada seberapa banyak respon yang dibuat oleh subjek. Individu ditegaskan setelah memberikan sejumlah jenis perilaku tertentu. Sedangkan jadwal interval bergantung pada seberapa banyak waktu yang telah berlalu sejak penegasan sebelumnya. Jadwal interval ini menuntut individu pada perilaku yang sesuai yang pertama setelah kurun waktu tertentu berlalu. Penegasan dapat juga diklasifikasikan menjadi tetap atau variabel.

Ketika penghargaan diberi jarak interval waktu yang seragam jadwal penegasan tersebut disebut jadwal interval tetap (fixed interval schedule). Variabel yang menentukannya adalah waktu dan dipertahankan secara konstan.

Jika penghargaan diberikan pada waktu tertentu sehingga penegasannya tidak dapat diprediksikan jadwal tersebut merupakan jadwal interval variabel (variable interval schedule). 

Jadwal rasio tetap (fixed ratio schedule) setelah sejumlah tetap atau konstan dari respon yang diberikan, penghargaan pun diberikan. Misalnya adalah rencana insentif tarif per unit yang dapat diselesaikan karyawan. Sedangkan jadwal rasio variabel (variable ratio schedule) menegaskan ketika penghargaan bergantung pada perilaku dari individu. 

ü Jadwal dan Perilaku Penegasan

Jadwal penegasan berkesinambungan dapat memicu kejenuhan dengan cepat. Berdasarkan jadwal ini perilaku cenderung melemah dengan cepat ketika penegasan tidak diberikan. Namun penegasan berkesinambungan disediakan untuk respon-respon yang baru dicetuskan, tidak stabil, dan jangka pendek. Sebaliknya, penegasan berkala tidak menyebabkan kejenuhan dengan cepat karena tidak mengikuti setiap respon. 

Jadwal variabel cenderung menyebabkan kinerja lebih tinggi dibandingkan jadwal tetap seperti pembayaran karyawan dilakukan secara tetap. Tetapi tidak secara nyata menghubungkan kinerja dengan penghargaan. Penghargaan diberikan sebagai imbal hasil waktu yang digunakan untuk respon tertentu. 

Jadwal interval variabel memberikan respon yang tinggi, perilaku yang stabil dan konsisten karena korelasi antara kinerja, penghargaan dan adanya ketidakpastian tinggi sehingga karyawan cenderung lebih waspada karena adanya ketidakpastian tersebut. 

ü Modifikasi Perilaku

Modifikasi perilaku lebih populer disebut Mod POB (OB Mod) yang memberikan penjelasan tentang konsep penegasan pada situasi kerja. Langkah-langkah dalam Mod PO adalah :

1) Mengidentifikasi perilaku penting

2) Mengembangkan data lini dasar

3) Mengidentifikasi konsekuensi-konsekuensi perilaku

4) Mengembangkan dan menerapkan sebuah strategi intervensi

5) Mengevaluasi perbaikan kerja

ü Masalah dengan Mod PO dan Teori Penegasan

Masalah yang terkait dengan paham perilaku adalah pikiran dan perasaan dengan segera mengikuti rangsangan lingkungan, bahkan terhadap rangsangan yang secara eksplisit ditujukan untuk membentuk perilaku. Hal ini berlawanan dengan asumsi dari paham perilaku dan Mod PO, yang mengasumsikan bahwa pikiran dan perasaan individu yang paling dalam respon terhadap lingkungan adalah tidak relevan. 


DAFTAR PUSTAKA 



Artikel Terkait Akuntansi

☆☆☆ Terimakasih Semoga Bermanfaat ☆☆☆
Judul: Dinamika Perilaku Individu
Rating: 100% based on Perfect ratings. 168 user reviews.
Ditulis Oleh: Wisnu Jibonk

0 Response to "Dinamika Perilaku Individu"

Posting Komentar